Sabtu, 16 Februari 2019

Reading Challenge Odop Level 2 Tantangan 3

Warso

Pagi ini Ketika turun dari bus, aku harus melanjutkan kembali perjalanan dengan menggunakan sebuah angkutan pedesaan untuk sampai ke sebuah desa yang akan menjadi tempat tugasku. Sebagai dokter Koas di sebuah puskesmas. Setelah beberapa tahun, akhirnya aku berhasil menyelesaikan pendidikan kedokteran yang selama ini aku cita-citakan. Desa itu adalah sebuah desa terpencil yang terletak di sebuah kaki gunung. Yang sangat jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Desa itu adalah desa Penanggapan. Sebuah desa yang berada di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Suasana pagi ini masih terasa sangat sepi. Sudah hampir 35 menit lebih aku harus menunggu angkutan pedesaan. Namun belum ada satupun yang terlihat melewati jalan ini. Mungkin karena aku terlalu kepagian sampai di sini. 

Udara pagi ini masih terasa begitu dingin. Aku lihat ada juga beberapa orang yang sedang menunggu angkutan pedesaan. Tak berapa lama kendaraan yang aku tunggu akhirnya terlihat juga. Aku segera bergegas untuk menghampirinya. Sengaja aku memilih duduk di depan di samping sopir agar sedikit nyaman karena tidak berdesakkan. 

Sepanjang perjalanan yang aku lihat di  sebelah kanan dan kiri jalan yang hanyalah hijaunya sawah dan juga perbukitan. Meski masih tertutup pekatnya kabut namun cukup menyegarkan penglihatan. Matahari pun masih terlihat malu-malu menampakkan sinarnya. Hingga tak dapat menembus pekatnya kabut yang menyelimuti hijaunya dedaunan. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan. Yang selama ini nyaris tak pernah aku lihat selama aku menempuh pendidikan dan tinggal di Ibu Kota. 

Tak terasa setelah beberapa lama dalam perjalanan dengan angkutan pedesaan sambil menikmati hijaunya pemandangan perbukitan akhirnya aku sampai juga di desa Penanggapan. Aku langsung turun persis di depan sebuah puskesmas yang letaknya bersebelahan dengan kantor kepala desa. Di sana masih tampak sepi. Belum ada satupun yang datang. 

Rasanya begitu asing, aku sendirian berada di sebuah desa terpencil seperti ini. Desa yang sama sekali tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Sambil melepas lelah aku duduk di sebuah bangku panjang di ruang tunggu puskesmas itu. Tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki berumur sekitar 30 tahunan memberi salam. Sekilas aku melihatnya. Meski tinggal di desa terpencil seperti ini, namun dia terlihat gagah dan berwibawa. Tampaknya dia juga tidak seperti orang desa.

"Assalamualaikum...ucapnya"

Waalaikumussalam jawabku"

Dengan sedikit perasaan kaget aku membalas ucapan salamnya. 

"Ini dengan Bu dokter Lelly ?" Lelaki itu bertanya.

Iya pak, jawabku singkat

Perkenalkan Bu dokter, saya Warso kebetulan yang menjadi kepala desa di sini. Lelaki itu mengulurkan tangannya kepaku.

Oh iya pak, perkenalkan saya Lelly sambil ku balas uluran tangannya. Kami berdua berjabatan tangan sambil memperkenalkan diri. Sesaat kemudian pak Warso menunjukkan sebuah rumah yang berada persis di belakang kantor kepala desa dan puskesmas. Rumah itu yang nantinya akan menjadi tempat tinggal aku selama bertugas di desa itu. Pak Warso segera membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk dan beristirahat. Aku segera mengiyakan karena memang aku benar-benar sudah merasa lelah. 

"Silahkan Bu dokter" kata pak Warso sambil memberikan kunci rumah itu.

"Saya permisi dulu" dia pamit sambil bergegas pergi

Aku hanya mengangguk saja mengiyakannya.

Hari-hari selanjutnya aku langsung bekerja sebagai dokter puskesmas di sana. Di sebuah desa terpencil yang jauh dari bayangan aku sebelumnya. Aku juga semakin mengenal kehidupan warga desa dan masyarakatnya. 

Demikian juga dengan pak Warso sang kepala desa di sana. Setelah aku lebih dekat berteman dan mengenalnya. Selain tampan ternyata dia adalah sosok lelaki yang sangat bersahaja, lembut namun juga tegas dan berwibawa. Dia begitu di hormati di lingkungan desa maupun warga desa. Bahkan juga di kalangan kepala desa yang lain di sekitarnya. Karena wibawa dan juga kebaikannya selama ini dalam memimpin desa. Dia juga ternyata seorang sarjana muda. Pantas kalau selama ini dia terlihat berbeda. 

Suatu sore yang indah saat dia bekunjung ke rumah, tanpa sengaja kami berdua saling bercerita banyak hal. Tentang kekagumannya kepada Umar bin Khattab yang selama ini telah menjadi inspirasinya dalam memimpin dan memajukan desa. Diam-diam tanpa aku sadari ternyata aku juga mengaguminya. Selain karena kebaikannya, juga karena sosoknya sebagai pemimpin desa yang begitu mengagumi Umar bin Khattab yang meski tegas, berwibawa namun dia juga lembut kepada rakyatnya.

#readingchallengeodop
#onedayonepost
#cerpen
#tantanganlevel2
#rcolevel2
#level2tantangan3

Reading Challenge ODOP Level 2 Tantangan 2

Biografi Singkat Umar bin Khattab



Memenuhi tugas Reading Challenge Odop di level 2 tantangan kedua, membuat sebuah biografi singkat. Kali ini saya akan menulis tentang biografi singkat salah seorang  tokoh yang sangat saya kagumi. Beliau seorang sahabat nabi yaitu  Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab, dengan nama lengkapnya Umar bin al-Khattab bin Abdul Uzza. Beliau adalah Khalifah kedua setelah wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq yang lahir di Mekkah 583 M. Yang masih keturunan dari Bani Adi yang masih satu rumpun dengan suku Quraisy. 

Meski wataknya yang keras dan juga tegas beliau sangat disegani dan ditakuti pada zamannya, hingga dijuluki "Singa Padang Pasir". Namun beliau adalah sosok pribadi yang bertakwa dan Zuhud. Tidak pernah sedikit pun menghiraukan cercaan orang lain dalam menegakkan agama Allah.

Jasa beliau sangat besar dalam perkembangan dan penyebaran agama Islam.Di bawah kepemimpinannya perkembangan Islam tumbuh sangat pesat. Banyak terjadi penaklukkan pada masa pemerintahan beliau. Bahkan dua negera adidaya Persia dan Romawi pun jatuh dan takluk pada pemerintahan beliau. Yang merupakan sejarah paling besar dalam masa kepemimpinan beliau. Keislaman Umar bin Khattab ini merupakan sebuah kemenangan besar bagi kaum muslimin. 

Dialah orang yang mendapat gelar al-Faruq yaitu pemisah antara yang benar dan yang batil. Banyak hadist yang menjelaskan tentang kedudukan dan keutamaan beliau. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam sunannya dari Uqbah bin Amir. Bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda "Seandainya ada seorang Nabi yang muncul setelahku maka Nabi itu adalah Umar.

Pernah terjadi pada suatu masa yang disebut dengan tahun ramad atau tahun paceklik. Saat itu  dalam pemerintahan beliau dunia mengalami musim paceklik. Terjadi kemarau panjang, hingga bumi pun menghitam. Masyarakat banyak yang ditimpa kelaparan yang sangat parah. Demikian besarnya kasih sayang Umar bin Khattab terhadap rakyatnya. Melihat musibah yang menimpa rakyatnya beliau  pun pernah berkata "Aku tidak akan merasakan kekenyangan sehingga bayi-bayi kaum muslimin merasakan kekenyangan". 

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab shahihnya dari Ummul Mu'min. Umar bin Khattab pernah berdoa. "Ya Allah berikanlah kepadaku mati syahid di jalan-Mu dan jadikanlah kematian kita di negeri Rasul-Mu. Maka Allah mengabulkan doanya dan Allah memuliakan Umar bin Khattab dengan mati syahid di jalan Allah.

Pada saat beliau sedang mengimami shalat fajar, seorang penghianat bernama Abu Lu'lu'ah Al-Majusi menikamnya dengan sebilah pisau.

Demikian biografi singkat Umar bin Khattab. Semoga Allah SWT memberikan keridhaannya kepada beliau, Aamiin.
Dari: Biografi Umar bin Khattab
Oleh : Muhammad Husain Haekal

#biografi
#readingchallengeodop
#onedayonepost
#rcolevel2
#tantanganlevel2
#level2tantangan2

Sabtu, 09 Februari 2019

Resensi Novel Tantangan Level 1 RCO ODOP

RESENSI NOVEL MUARA KASIH


Judul                      :  Muara Kasih
Pengarang             :  Muthmainnah
Penerbit                 :  Asy-Syaamil Press & Grafika
Tahun terbit          : Cetakan I Bandung, desember 2000
Kota terbit             : Bandung
Jumlah halaman  : 188


Muara kasih, novel islami yang ditulis oleh Maimon Herawati, lahir di desa Palangki Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat dengan nama pena Muthmainnah. Sejak ner usia 15 tahun sudah mulai menulis dan pada usia 17 tahun karyanya mulai diterbitkan di beberapa majalah remaja.

Buku ini menceritakan tentang kisah seorang gadis mualaf keturunan Sunda dan Padang Kathrin Elizabeth Kelly. Yang semenjak umur empat hari telah masuk dan besar sebagai anak angkat keluarga Kelly. Seorang pengacara senior di Pitt and Kelly Law Firm. Karena terpaksa diberikan ibu kandungnya yang miskin dan tak mampu membayar biaya rumah sakit seusai melahirkannya, kepada wanita asing anggota aktif misionaris katolik yang kebetulan dirawat di rumah sakit yang sama.

Kathrin adalah seorang gadis yang patuh kebanggaan mom, dad dan juga kedua kakaknya. Jason, yang lebih tua 10 tahun dan Matt yang usianya hanya beda beberapa hari saja dengannya. Dia hidup bahagia penuh cinta kasih dengan banyak kenangan indah.

Dengan bimbingan Allah yang begitu indah. Awal mula Kathrin mengenal Islam hingga  mendapat hidayah keislamannya karena ketertarikannya pada Mitch atau Omar. Seorang pria teman satu sekolah dengannya. Setelah dua musim berlalu, di penghujung musim gugur Kathrin bersahadat dan memeluk Islam. Meski tidak ada yang tau selain hanya saudara seiman 

Sampai pada suatu malam sesaat setelah dinner Kathrin menguatkan diri untuk menyampaikan keislamannya.
"Mom, Dad saya ingin bicara". Sambil menarik napas panjang. "Saya sekarang muslim"

Mendengar pengakuan Kathrin Mom sangat kecewa dan terpukul hingga masuk rumah sakit. Selama ini dia sangat mengharapkan agar kelak Kathrin dapat mengikuti jejaknya menjadi aktivis gereja. Kathrin pun merasa bersalah dan tak dapat menahan kesedihannya. Hatinya merasa teriris. Kini dia dan Mom adalah dua sahabat yang telah berseberangan jalan.

Ujian keislaman Kathrin pun tidak hanya tentang sakitnya Mom. Namun konflik semakin melebar dengan pihak sekolah hingga ke pengadilan.

Kisah pun menjadi semakin rumit namun Muthmainnah menyampaikan kisah ini dengan bahasa yang lugas dan tidak bertele-tele.  ketika Kathrin mengetahui statusnya kalau dirinya adalah anak angkat. Meski lelah namun dia bertekad dengan  sepenuh jiwa untuk menggali misteri masa lalunya hingga dapat menemukan muaranya. 

Dalam kisah ini setting tempat yang menjadi view Australia, Sunda dan juga Minang memberikan banyak ragam dan warna budaya, sayangnya tidak menyajikan gambar-gambar berwarna sehingga terasa sedikit membosankan namun novel ini bagus aku suka banget dengan cerita dan juga judulnya Muara Kasih.

#resensibuku
#tantanganlevel1
#rco
#readchallengeodop
#onedayonepost

Senin, 24 Desember 2018

Situs Lawang Sanga dan Legenda Buaya Putih

Image From Google


Assalamualaikum…,

Menjawab tantangan I NBB PL Sepenggal Warisan Rakyat. Kali ini saya akan bercerita tentang Lawang sanga dan legenda buaya putih yang terletak di salah satu destinasi wisata keraton kasepuhan kota Cirebon.

Lawang sanga ini adalah sebuah bangunan kecil dengan gaya arsitektur yang unik yang terletak di tepian sungai kriyan yang berada di belakang keraton kasepuhan. Bangunan ini disebut lawang sanga karena memiliki sembilan pintu yang berfungsi sebagai bangunan penerima dari arah perairan sungai kriyan menuju keraton kasepuhan.

Masyarakat kota Cirebon meyakini bahwa lawang sanga merupakan akses menuju sungai kriyan yang dihuni oleh seekor buaya putih. Yang konon merupakan jelmaan Elang Angka Wijaya yaitu salah seorang putra Sultan Sepuh I Syamsudin Martawijaya yang telah berkali-kali dinasehati namun tidak patuh agar tidak makan sambil tiduran dan tengkurap yang menyerupai buaya. 

Apa mau dikata meski Sultan sepuh menyesal namun nasi telah menjadi bubur. Akhirnya Elang Angka Wijaya berubah menjadi seekor buaya putih. Sejak saat itu elang angka wijaya menghuni sebuah kolam yang berada di salah satu bangunan keraton kasepuhan. Namun setelah dewasa buaya putih itu kemudian dipindahkan ke sungai kriyan. 

Dari cerita legenda buaya putih ini mengandung pelajaran berharga dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai orang tua hendaknya berhati-hati dalam berucap apalagi terhadap anak-anak kita sejengkel dan semarah apapun.

@desttyputtri
@markaspejuangliterasi
#tantangan1
#nbbcernak
#nbbceritarakyat

Senin, 26 November 2018

Sabar dan Syukur dalam berbagai keadaan


Tugas ODOP kali ini adalah membuat artikel wawancara bebas, namun tetap yang masih berkaitan dengan jenis blog saya yaitu tentang gaya hidup atau lifestyle. Pada kesempatan kali ini saya akan menuangkan hasil dari wawancara pertama yang saya lakukan terhadap seorang pengusaha muda bernama Hendra yang sangat menginspirasi saya untuk selalu sabar dan syukur dalam berbagai keadaan. Hendra seorang ayah dari dua orang putri yang beberapa tahun ini telah berhasil merintis kembali usaha konveksinya. 

Seperti penuturan Hendra kepada saya bahwa perjalanan hidup manusia itu memang bagaikan sebuah perputaran roda. Terkadang berada diatas terkadang pula berada dibawah. Kita tidak akan bisa memprediksi dengan pasti, perjalanan hidup kita itu akan seperti apa dan  tidak bisa kita tebak kemana arahnya. Hari esok dan lusa tetap akan menjadi rahasia Allah SWT.

Demikian juga dengan perjalanan kehidupan yang harus dialami hendra. Selama ini dia sudah bekerja keras membanting tulang untuk membangun usahanya. Namun apa mau dikata bila Allah SWT sudah berkehendak, tak seorangpun yang mampu menghalanginya. Dia tidak dapat berbuat apa-apa untuk mempertahankan usahanya agar tidak kandas selain pasrah dan merelakannya. Usaha konveksi yang selama ini dibangunnya dengan kerja keras harus bangkrut dan habis tak tersisa hingga membuatnya jatuh.

Tak heran jika kondisi seperti ini membuat dia stress memikirkannya. Belum lagi semua orang terdekat satu persatu menjauh dan pergi meninggalkannya. Hingga pada saat berada dalam kondisi tersebut wajar kalau Hendra merasa sendiri. Dalam ketidak berdayaan seperti itu Kalau kita tidak bisa menyikapinya akan mengakibatkan berbagai gangguan baik fisik maupun psikis. Seperti halnya dengan Hendra, dia pergi begitu saja meninggalkan semuanya untuk kembali menata hati dan jiwanya yang terguncang. Sampai akhirnya dua tahun kemudian dia bisa bangkit lagi. 

Kesimpulan dari perjalanan panjang yang dialaminya ini menurut Hendra bisa jadi merupakan sebuah teguran dari Allah SWT, agar dia lebih berhati-hati dan mawas diri. Kuncinya dia ikhlas menjalani dengan selalu sabar dan bersyukur dalam keadaan apapun. Pasrah menyerahkan segalanya hanya kepada Allah semata. Karena segala sesuatu yang ada di dunia ini seluruhnya hanyalah milik Allah SWT, Tuhan semesta alam yang Maha Kaya dan Bijaksana pemilik dunia dan seisinya.

Nama : Hendra
Umur : 35 Tahun
Pendidikan : Sarjana IT
Owner : Umbro Sport

#NonFiksi
#ODOPBatch6


5 Warung Makan Favorit Saya


Assalamualaikum sahabat blogger,

Di hari ketujuh ini BPN 30 day Challenge 2018 dengan teman "5 Warung Makan Favorit Saya" Saya akan berbagi tentang 5 warung makan favorit saya dan keluarga di kota Cirebon. 

Cirebon kota kesayangan yang penuh pesona dan tak akan pernah terlupakan. Ada begitu banyak kisah dan kenangan bersamanya. Cirebon dikenal dengan sebutan Kota Udang. Cirebon juga terkenal sebagai kota wali karena sejarah memang tidak dapat memisahkannya dari sosok salah seorang wali songo yaitu Sunan Gunung Jati.

Saat berkunjung ke kota Cirebon untuk jalan-jalan dan menikmati beberapa destinasi wisata atau hanya sekedar transit untuk melanjutkan perjalanan, jangan lupa menikmati kuliner khasnya yang menggoda. 5 warung makan favorit saya yang murah meriah dan patut untuk dicoba.

Empal Asem Amarta
Empal asem amarta ini terletak di jalan raya plered Cirebon. Empal asem ini sebenarnya empal asem sebenarnya sejenis dengan empal gentong. Hanya saja empal asem ini tidak menggunakan santan. Empat asem lebih aman bagi yang takut dengan kolesterol.Empal asem juga merupakan salah satu kuliner khas Cirebon yang nikmat dan patut anda coba.

Image from google

Nasi Lengko Bahagia
Sesuai dengan namanya Nasi lengko bahagia, tempatnya di jalan bahagia persis bersebelahan dengan apotek bahagia. Di tempat ini selain menyediakan nasi lengko juga ada juga sate kambing. Nasi Lengko ini adalah nasi yang penyajiannya dengan dilengkapi toge, timun, tahu, tempe dengan dibubuhi irisan kucai dan ditambah dengan kecap.  Nasi lengko bahagia ini merupakan salah satu kuliner khas kota Cirebon yang juga menjadi favorit suami tercinta. Selain tempatnya dekat dengan tempat kerja saya, nasi lengko bahagia ini memang enak rasanya.

Image From Google

Bubur Ayam Toha
Bubur ayam mohammad toha, tempatnya ada di jalan mohammad toha kota Cirebon. Bubur ayam Toha ini menyediakan bubur ayam lezat dengan dilengkapi topping bawang goreng, bawang daun, ayam suwir dan juga kecap. Di tempat ini selain bubur ayam, ada juga bubur kacang hijau, indomie rebus dan telur setengah matang. Bubur ayam toha ini bukan non stop selama 24 jam.

Image From Google

Docang
Makanan ini merupakan perpaduan antara lontong dengan aneka sayuran seperti daun singkong, kangkung sama toge ditambah dengan sedikit parutan kelapa dan kuah sayur. Kuah sayurnya ini terbuat dari oncom atau dalam bahasa Cirebon dikenal dengan dage ditambah bumbu halus dan juga sereh dan salam. Docang ini rasanya sedap dan gurih apalagi kalau disajikan hangat dengan ditambah kerupuk.

Image From Google

Sayur Asem Ibu Mastini
Sayur asem ibu mastini tempatnya berada di jalan tuparev. Seperti namanya tempat ini menyajikan menu sayur asem dengan pelengkapnya tahu goreng, tempe goreng, ayam goreng, sambal dan lalapan.  Sayur asem ibu Mastini rasanya nikmat dan segar apalagi dinikmati saat makan siang.   


Image From Google
Itulah 5 warung makan khas Cirebon favorit saya dan juga keluarga. Meski sederhana namun tetap menggugah selera. 

@bloggerperempuan
#bloggerperempuan
#BPN30dayChallenge2018

Minggu, 25 November 2018

Cerita Inspiratif Dari Kampung Berseri Astra

Sumber Khoirulanwar.net

Saat membaca syarat dan ketentuan lomba Anugerah Pewarta Astra 2018 yang mengajak seluruh peserta untuk menggali cerita inspiratif dari 77 kampung berseri Astra di seluruh Indonesia ke dalam tulisan untuk menginspirasi bangsa. Saya melihat daftar dari ke 77 kampung berseri Astra dan saya memilih satu dari ke 77 kampung berseri yang ada. Pilihan saya jatuh pada sebuah kampung ramah yang ada di kota Cirebon. Sebuah kota tempat dimana saya lahir dan dibesarkan. Kampung itu adalah sebuah kampung yang ramah lingkungan bernama merbabu asih yang sudah membuat saya penasaran.

Sumber khoirulanwar.net
Kebetulan secara tak sengaja, siang itu setelah menghadiri undangan pernikahan seorang teman kerja suami, saya mampir ke rumah teman sekerja di kelurahan Larangan yang kebetulan dekat dan bersebelahan dengan kampung ramah lingkungan merbabu asih. Saat melintasi jalan yang menuju ke arah tempat tinggal teman saya, tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah Pura yang indah layaknya seperti sebuah perkampungan di Bali. Sejenak saya pun berhenti untuk sekedar menikmati keindahannya dan berfoto di sana.

Sumber khoirulanwar.net
Setelah tau lebih banyak informasi dari teman saya ternyata pura itu adalah pura agung jati pramana. Tepatnya berada di kawasan Rw 08 Merbabu Asih, Kelurahan Larangan, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Dari berbagai informasi yang saya dapatkan baik dari teman saya maupun dari warga tentang kampung Merbabu Asih, saya pun penasaran dan ingin berkenalan lebih dekat dengan kampung ramah lingkungan tersebut.

Yang ternyata merupakan kampung ramah lingkungan yang selama ini sudah digandeng oleh ASTRA khususnya Asuransi Astra Buana (AAB) Garda Oto yang merupakan salah satu anak perusahaan Astra Internasional yang bergerak di bidang jasa pelayanan finansial. ada di Jalan Kartini Kota Cirebon Astra hingga menjadi kampung percontohan. Atas prestasinya itu wajar saja kalau pada tanggal 24 Oktober 2018 silam Merbabu asih telah memperoleh penghargaan Program Kampung Iklim (Proklim) dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan mendapatkan nilai tertinggi se-Indonesia.

Di kampung Merbabu asih ini terdapat sebuah bengkel seni yaitu sebuah tempat yang dipakai untuk memproduksi berbagai limbah sampah plastic menjadi sebuah produk yang kreatif dan menarik. Berawal dari bengkel seni itulah yang kemudian menginspirasi saya untuk belajar mengolah limbah plastic menjadi  sebuah dompet yang cantik dan menarik yang dapat dijadikan sebuah peluang usaha. Sebagai langkah awal menuju ke arah sana sekarang saya sedang mengikuti kursus menjahit.

Demikian pengalaman saya saat berkunjung salah satu kampung berseri Astra yang berada di kota Cirebon yaitu kampung ramah lingkungan yang bernama Merbabu asri yang telah menginspirasi saya untuk belajar menjahit.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba anugerah Pewarta Astra

#NonFiksi
#ODOPBatch6